Membaca Peta Kekuatan Politik di Pilpres 2019

Membaca Peta Kekuatan Politik di Pilpres 2019

rahbargroup.org – Menjelang pemilihan presiden di tahun 2019 ini, banyak pihak mulai ramai membaca peta kekuatan partai politik yang ada di dalam negeri. Berkaca dari Pilkada serentak yang dilaksanakan bulan Juli lalu di 171 daerah di Indonesia, untuk sementara ini hasil positif dipegang oleh 6 partai yang menjadi koalisi pendukung kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

6 partai koalisi tersebut adalah PAN dan Nasdem yang memperoleh persentase kemenangan terbesar pada pemilihan gubernur kemarin dengan perolehan 58,8%. Kemudian Golkar dan Hanura yang mendapat perolehan yang sama besar yaitu 52,9%. Lalu ada PPP yang memegang popularitas sebanyak 41,2%, PKB 34,3%, dan di posisi terakhir adalah partai pengusung Jokowi, PDIP, dengan 23%.

Membaca Peta Kekuatan Politik di Pilpres 2019

Partai pimpinan Prabowo Subianto, Gerindra, yang menjadi oposisi pemerintah memanen hasil buruk dengan hanya mengantongi 17,6% suara saja, meski sekutu partainya, PKS, mendapat posisi yang lebih baik dengan 41,2% kemenangan.

Menurut Ujang Komarudin yang menjabat  Direktur Eksekutif untuk Indonesia Political Review, hasil dari pilkada lalu sedikitnya bisa merefleksikan apa yang akan terjadi di pemilihan presiden 2019. Artinya, kesempatan Jokowi untuk menang kembali di 2019 masih sangatlah besar.

Baca juga : Musik Underground Kota Bandung yang Tak Lekang oleh Zaman

Salah satu alasannya adalah karena 6 partai gabungan yang sepakat berkoalisi untuk mendukung Jokowi berhasil memenangkan pemilihan gubernur di semua wilayah Jawa, baik barat, tengah dan timur. Dan lebih dari setengah penduduk Indonesia berada di pulau Jawa, tepatnya adalah 89,4 juta pemilih dari total 152,8 juta penduduk.

Membaca Peta Kekuatan Politik di Pilpres 2019 nanti

Meski begitu, tidak berarti partai yang menjadi oposisi serta merta kehilangan harapan untuk memenangkan pilpres 2019 karena dari hasil pilkada kemarin, pihak koalisi hanya bisa mengalahkan partai oposisi dengan hasil yang tidak terlalu signifikan.

Kesimpulannya adalah, jika Joko Widodo untuk kedua kalinya naik sebagai capres di partai koalisi dan Prabowo Subianto kembali menjadi calon presiden di partai oposisi maka kemungkinan besar hasilnya pun tidak akan terlalu mengejutkan. Di atas kertas, Jokowi masih memiliki popularitas yang lebih baik meski hanya berbeda tipis dengan Prabowo Subianto.