Islamophobia

Menjawab Islamophobia, Trump Adakan Buka Puasa Bersama

Bulan Ramadan disebut sebagai bulan yang penuh berkah bagi seluruh umat Muslim di dunia. Selain untuk menjalankan ibadah puasa, bulan yang suci ini juga menjadi saat yang tepat untuk berlomba-lomba mendapatkan pahala dengan beribadah dan berbuat baik.

Di Tanah Air sendiri terdapat segudang tradisi saat menyambut bulan Ramadan. Mulai dari membeli baju Lebaran hingga mudik ke kampung halaman tentunya pasti dilakukan oleh masyarakat Indonesia.

Namun jika membicarakan satu tradisi Ramadan yang paling populer dan pasti pernah dilakukan oleh semua orang tentunya adalah bukber atau buka bersama.

Menjalankan buka puasa bersama di bulan Ramadan menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu. Pasalnya kegiatan yang satu ini biasanya juga menjadi salah satu cara untuk bersilahturahmi dan berkumpul dengan keluarga besar ataupun teman-teman.

Menariknya tradisi yang satu ini juga tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Indonesia saja. Tokoh terkenal dunia seperti Presiden Amerika Serikat, Donald Trump juga diketahui telah mengadakan tradisi buka puasa bersama warga Muslim pada 13 Mei 2019 yang lalu.

 

Buka Puasa Bersama Ternyata dilakukan di Gedung Putih

Indonesia memiliki warga yang mayoritas beragama Islam sehingga melakukan buka puasa bersama telah menjadi kebiasaan bagi semua orang. Namun ternyata Presiden Amerika Serikat juga memiliki kebiasaan yang sama yaitu mengadakan buka puasa bersama yang dilakukan di Gedung Putih.

Di tahun ini Presiden Donald Trump juga masih tetap mengikuti tradisi tersebut. Sebenarnya tradisi berbuka bersama di Gedung Putih dimulai sejak tahun 1996 lalu saat Bill Clinton masih menjabat sebagai Presiden dan Hillary Clinton menjadi Ibu Negara.

Namun buka puasa bersama yang diadakan di Gedung Putih untuk pertama kalinya dilakukan pada tahun 1805 lalu.

Saat itu Presiden Presiden Thomas Jefferson mengadakan buka puasa yang pertama kalinya di Gedung Putih karena mengadakan acara kenegaraan dengan menjamu tamu dari Tunisia.

 

Donald Trump Mengundang Perwakilan Negara Mayoritas Muslim untuk Berbuka Bersama

Dalam tradisi buka puasa yang digelar di Gedung Putih, biasanya yang diundang adalah perwakilan dari negara yang memiliki warga yang mayoritas beragama Islam. Seperti yang dikabarkan oleh Associated Press, di tahun ini Presiden Donald Trump juga kembali mengundang para diplomat dari negara mayoritas Muslim.

Presiden Amerika Serikat yang satu ini tak hanya memberikan jamuan untuk berbuka puasa saja. Ia juga sempat berpidato dan mengucapkan beberapa patah kata mengenai bulan Ramadan yang dinilainya sangatlah spesial.

Dan Ramadan adalah saat masyarakat bersatu mewujudkan harapan, toleransi, dan perdamaian. Dengan semangat inilah, kita berkumpul untuk iftar, tradisi makan Ramadan untuk membuka puasa,” bunyi pidato Donald Trump dikutip dari Kumparan.

 

Terorisme dan Persekusi adalah Topik Bukber di Gedung Putih

Aksi terorisme yang terjadi akhir-akhir ini juga menjadi perhatian bagi Donald Trump. Dalam pidatonya saat berbuka puasa ia juga sempat membahas sedikit mengenai aksi terorisme maupun persekusi terhadap kelompok minoritas.

Beberapa waktu yang lalu publik dunia dikejutkan dengan aksi brutal dari para teroris seperti penembakan di Masjid Christchurch di Selandia Baru maupun penembakan yang terjadi di sebuah Gereja di Sri Lanka.

Di Amerika Serikat sendiri sebenarnya masih ada orang-orang yang Islamophobia yang disebabkan serangan 11 September 2001 silam. Warga Muslim yang menjadi minoritas pun mendapatkan diskriminasi selama bertahun-tahun.

Namun saat ini hal itu sudah mulai berkurang dan terbukti dengan komitmen Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang masih mau melanjutkan tradisi buka puasa bersama saat Ramadan. Semoga saja kegiatan tersebut menjadi contoh untuk menjaga toleransi antar umat beragama.